Wednesday, December 25, 2019

Millenials: Agent of Road Safety (Peran Millenials dalam Mendukung Keselamatan Lalu Lintas Jalan)

0

Keselamatan lalu lintas saat ini merupakan hal yang mutlak, tak dapat ditawar-tawar apalagi mengingat kondisi lalu lintas di Jakarta yang semakin padat. Pertumbuhan jumlah kendaraan baik sepeda motor maupun mobil yang sangat pesat tak dapat dipungkiri sebagai salah satu akibat dari meningkatnya daya beli masyarakat, sehingga menjadi faktor penyebab semakin kompleksnya kondisi lalu lintas di ibukota. Sejalan dengan banyaknya permasalahan lalu lintas seperti kemacetan, jumlah kendaraan yang bertambah, maupun pelanggaran lalu lintas maka 
pelanggaran lalu lintas juga banyak menelan korban. Kecelakaan lalu lintas akibatnya semakin tinggi. Berdasarkan data yang dikutip dari website Korlantas Polri per Maret 2019, data kecelakaan lalu lintas untuk triwulan terakhir untuk wilayah di bawah naungan Polda Metro Jaya total kecelakaan lalu lintas yang terjadi yaitu sebanyak 1.494 kecelakaan dengan jumlah korban 1.883 orang. Dari kecelakaan tersebut, total kerugian mencapai 3,4 Milyar Rupiah, bukan jumlah yang sedikit. Bahkan dari data korban kecelakaan tersebut sebagian besar menimpa kelompok usia 15-25 tahun. Maka kelompok usia muda, atau kini akrab disebut dengan “Generasi Millenials” adalah yang paling rentan mengalami kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Mengapa kecelakaan lalu lintas banyak melibatkan kaum millenial? Kaum millenial masih belum mengalami kematangan emosi yang sempurna, sehingga seringkali mudah terpengaruh dengan kondisi maupun keadaan lingkungan sekitarnya. Salah satu dampak dari belum matang emosional tersebut yaitu seringkali tidak menaati rambu lalu lintas, melanggar batas kecepatan dengan kebut-kebutan maupun tak acuh di jalanan sehingga mengakibatkan kemacetan maupun membahayakan pengendara lainnya.

Salah satu pelanggaran lalu lintas yang sering terjadi yaitu pelanggaran administrasi misalnya tidak membawa perlengkapan surat-surat mengemudi, bahkan ada juga pengemudi di bawah umur, maupun melakukan pelanggaran dengan bonceng tiga. Oleh karena itu millenials sebenarnya adalah salah satu kalangan yang paling penting untuk menjadi roda penggerak bagi perubahan kebiasaan masyarakat untuk menjadi pelopor lalu lintas yang berkeselamatan.

Pemerintah baik melalui Kementerian ataupun Lembaga seperti Polri telah menyusun sebuah program guna menangani permasalahan lalu lintas yang ada di Indonesia. Dengan mengusung keselamatan sebagai tonggak utama, tentu saja kecelakaan lalu lintas adalah hal yang harus diberantas maupun disusun langkah preventifnya. Tak ada kata tawar bagi keselamatan. Perilaku berkeselamatan di jalan akan mengurangi kecelakaan di jalan raya. Melalui rencana aksi keselamatan lalu lintas yang bernama Rencana Umum Nasional Keselamatan (RUNK), akan mempermudah perencanaan program yang selaras mulai dari pemangku kepentingan lintas instansi hingga ke tingkat masyarakat, termasuk generasi millenial. 

Secara garis besar, ada 5 pilar keselamatan jalan yang diusung di dalam RUNK yaitu:
  1. Manajemen Keselamatan Jalan 
  2. Jalan yang Berkeselamatan 
  3. Kendaraan yang Berkeselamatan 
  4. Perilaku Pengguna Jalan yang Berkeselamatan 
  5. Penanganan Korban Pasca Kecelakaan 
Dari ke lima poin RUNK tersebut seharusnya secara nasional Indonesia dapat memetakan strateginya untuk mendukung visi global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam Deklarasi Dekade Aksi Keselamatan Global. Dalam deklarasi tersebut disebutkan ada target 50% untuk mengurangi korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.

Lantas apakah kita mampu untuk mencapai target tersebut? Tentu saja. Kaum millenial tentu dapat menjadi agent of change khususnya dari segi keselamatan berlalu lintas. Millenial yang aktif, kreatif, maupun visioner ini tentu dapat diarahkan untuk lebih positif dalam berkendara. Sederhana saja, mulai dari hal terkecil seperti kebiasaan sehari-hari saat berkendara di jalan, kemudian menularkan efek baiknya pada rekan sebayanya. 


Dengan pendekatan terhadap 5 pilar RUNK yang telah disebutkan sebelumnya, millenial dapat digerakkan bersama-sama oleh Pemerintah sebagai upaya membangun dan mewujudkan budaya keamanan dan keselamatan lalu lintas. Salah satu caranya misalnya dengan memilih duta keselamatan dari kalangan millenial yang sebelumnya telah dibekali pengetahuan mendalam seputat pengaplikasian 5 pilar RUNK dalam kehidupan sehari-haru. Ini merupakan salah satu cara apresiatif guna memberi penghargaan terhadap tindakan yang menciptakan keamanan dan keselamatan lalu lintas.

Dengan tetap berpegang pada RUNK serta bersinergi dengan pihak lain, maupun kaum millenial, keselamatan lalu lintas jalan atau road safety bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai. Semua dapat dilakukan, demikian pun kebudayaan yang selama ini terbentuk jika belum tertib, belum terlambat untuk mengubahnya melalui millenial dan beragam kapasitas generasi millenial yang mumpuni tentu semua dapat dilakukan. (Hanna Suryadika)


catatan: Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Road Safety Festival 2019

Tuesday, December 24, 2019

Kenapa Kita Harus Menjaga Lisan

0

Holaa!
Lama tak berjumpa setelah tulisan terakhir yang saya update di blog adalah setahun lalu.
Betul-betul setahun lalu banget, karena dulu terakhir di bulan Oktober juga.
Kali ini saya mau bahas hal yang sebenarnya ga ringan-ringan banget tapi ga cukup serius untuk dibahas di meja makan.
Pernah ngga sih kepikiran betapa pentingnya menjaga setiap ucapan yang keluar dari mulut kita?
—-


Anak-anak SDN 003 Setumuk, Kabupaten Natuna.

Jadi dulu, 3 tahun lalu saya pertama kali masuk camp Indonesia Mengajar.
Memang sih di sana tidak ada detil materi yang mengajar atau mengharuskan kami untuk bagaimana bertata krama atau menjaga perkataan saat mengajar nanti. Meski demikian, dari pola pengajaran yang didapat, saya dituntuk untuk mampu melihat permasalahan secara holistik. Sekalipun kami marah di kelas nanti, lisan kami harus dijaga, sikap kami harus mampu dimaknai anak-anak tapi tak boleh terkesan buruk. Susah kan? Jadi begini, marah tentu saja boleh sama anak-anak di kelas. Tapi apa iya semarah itu sampai harus berkata kasar? Anak-anak tetap harus tahu bahwa gurunya sedang tidak setuju dengan sikap mereka, gurunya kecewa dan marah akan sikap mereka itu harus terbaca oleh anak-anak. Tapi yang sulit adalah menahan amarah untuk tidak berkata kasar dan cenderung melukai diri lawan bicara kita, termasuk anak-anak sekalipun.
Tentu tidak jarang kan kita mendengar ada orang tua (atau orang yang lebih tua) kerap marah kepada anak(-anaknya). Terkadang cacian, makian, bahkan ucapan yang tidak enak didengar juga kerap terlontar. Itulah akibat jika terlanjur emosi menguasai diri.
“Dasar anak bodoh”
“Pembangkang”
“Masa gitu aja ga bisa? Mau jadi apa nanti?”
 Belum lagi kalau suka terucap kalimat yang sudahlah isinya makian, ditambah juga dengan perbandingan dengan orang lain.
“Kamu kok ga percaya sih, pantes hidupnya susah, gak kayak si A”
Wihhh pedih kan? Sudah disalahkan, dimaki, dibandingkan pula dengan orang lain.
Antar orang dewasa terkadang sering kita temui pembicaraan seperti ini, itu saja sudah amat pedih dan menyayat hati kalau diucapkan lawan bicara dalam kondisi kepala panas. Tapi sering juga saya dapati ucapan tersebut diluncurkan kepada anak-anak. Sederhana, ketika pembagian nilai ulangan si anak tak mendapat nilai bagus dan cenderung tak sesuai harapan si orang tua, apa yang lantas didapatnya? Kalau tak ada pemukulan kadang sering terdengar cacian pun melayang kepada si anak. Saya pernah dapat kasus begini waktu bertugas meski tak sampai ada kekerasan non verbal tapi si anak cukup deras menangis karena gagal jadi siswa terbaik pada 1 mata ulangan. Ujungnya si anak dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya.
—-

Saya adalah orang yang percaya bahwa dengan menjaga lisan, bertutur kata yang baik adalah cerminan kepribadian seseorang.
Pun demikian ketika saya katakan bahwa bukannya tak mungkin ucapana adalah doa, maka dari itu lisan harus betul-betul dijaga, terutama jika kita berinteraksi dengan anak-anak. Mungkin mereka terlihat lebih lemah, polos, dan tidak akan melawan kita sebagai orang tua, tapi saya yakin apa yang kita ucapkan kepada mereka akan terekam terus dalam memori mereka. Abadi hingga mereka dewasa, sewaktu-waktu ucapan yang pernah anda ucapkan akan terngiang-ngiang olehnya. Jika ucapan kita membahagiakannya maka ia akan tumbuh dengan kebahagiaan mengenang hal tersebut. Namun jika sebaliknya, kadang tentu ada amarah yang tumbuh bersama si anak seiring bertambahnya usia. Ia akan terus mengingat bagaimana ia pernah diolok-olok orang tuanya, dibandingkan dengan anak lain, tidak dihargai usahanya, dan lainnya.
Saat saya jadi guru, meski tak lama, saya ingin murid saya setidaknya mampu mengenang ucapan yang baik, tumbuh dengan kalimat motivasi yang bisa menginspirasinya.
Saya pernah begitu patah hati, ketika berkunjung ke rumah murid saya dan mendapaticbahwa orang tuanya bilang, “Wah dia nih anaknya bodoh bu, tak bisa lah dia kerjakan seperti itu.”, hingga akhirnya saya tanya langsung ke anaknya dan dia memang terbiasa hingga percaya bahwa dirinya bodoh dan tak mampu melakukan tugas apapun yang saya beri. Hari itu saya kecewa. Saya cuma ingin berharap siapa pun, di luar sana masih bisa mengeluarkan kalimat-kalimat positif, yang menularkan virus kebaikan dan optimisme. Terlebih untuk para orang tua yang selalu membandingkan, menyatakan kecewa, tak pernah mengapresiasi, berkata kasar terhadap anaknya semoga tulisan ini dapat menyadarkan anda bahwa ucapan (orang tua) adalah doa yang perlahan mampu membentuk kepribadian anak anda. Jadi, siapapun anda mari jaga lisan kita.

(It’s also a note for my self)

Regards
HS

Ps.tulisan terkonsep bulan Oktober, baru terselesaikan dan dipublish Desember 2019.

Sunday, October 21, 2018

Aku Menyukai Senyummu

0

Aku menyukai senyummu.
Dan tawamu
Dan rambutmu
Dan binar matamu, meski tidak alismu.
Maafkan aku, untuk yang satu itu penilaianku sulit diubah.

Aku menyukai senyummu.
Terlebih aku suka mendengar cerita-ceritamu.
Aku suka mendengar suaramu.
Entah sedang bicara atau bersenandung kecil,
Pasti aku dengarkan.
Entah dekat atau dari jarak yang cukup jauh meski samar

Aku menyukai waktu yang kuhabiskan denganmu.
Aku menyukai selera humormu yang tak seberapa.
Aku menyukai semua kelebihanmu
Aku menyukai argumen-argumenmu yang kadang bersebrangan denganku
Aku menyukai kejujuranmu pada satu waktu
Aku menyukai caramu membingkai cerita,
Mana yang perlu aku tahu dan mana yang tidak,
Meski kelamaan ada beberapa hal yang membuatku merasa perih

Aku menyukai caramu menenangkanku
“Tenang semua akan baik-baik saja”
“Semangat!”
“Kenapa harus khawatir?”
Sesederhana itu, tapi aku menyukai kalimat-kalimat itu.
Aku menyukai efek sesudahnya, aku mulai tenang, teduh.

Yang tak aku suka hanya satu:
Aku tak suka akhir cerita ini.
Entah kapan, tapi aku tahu
Memang salah caraku memperpanjang bahagia dengan menunda sedih.
Aku tidak pernah suka akhir cerita ini, nantinya.

Tapi, semoga nanti baik-baik saja, seperti katamu.


rgrds,
HS

Tuesday, October 9, 2018

Refleksi Perjalanan Pulang

0

Perjalanan pulang itu selalu menjadi waktu yang saya tunggu.
Ditunggu namun tak berarti menjadi waktu favorit saya dalam satu hari.
Saya tak melulu suka pulang, rumah selalu punya konsep berbeda buat saya.
Lain hal dengan keluarga, tempat tujuan pulang saya sesungguhnya.
Mari kita bicarakan keluarga di lain waktu.

Perjalanan pulang, darimana pun itu, luar kota atau dari kantor atau sehabis berkegiatan apa saja punya daya tarik kuat untuk membuat saya berpikir.
Malam-malam, pulang,naik ojek, macet, lama di jalan.
Kondisi yang sempurna untuk diam dan berpikir di tengah keramaian bukan?
Hari ini saya menemukan kata tepat untuk perjalanan pulang saya beberap waktu terakhir: Reflektif.
Saya senang mengetahui diri saya menamainya demikian.
Karena bagi saya waktu pulang kerja kadang bikin saya mikir.
Apa aja yang dipikirin? Banyak, dari yang receh sampai serius.

Thursday, October 4, 2018

Perihal Patah Hati

0

Terinspirasi dari sebuah grup WA yang tiba-tiba riuh

Jakarta 19 Juli 2018

Barangkali kamu tak tahu,
Hari itu betul-betul ada gemuruh yang tak beraturan di dada
Tanganmu mengulur, meminta salamku untuk berkenalan
"Dari Jakarta ya?" sapa pertamamu
Selanjutnya kita bertukar nomor
Tak lama malamnya rasa penasaran meruntuhkan egoku
"Halo apa kabar?" sebuah pesan yang kukirim yang rupanya tak langsung kau balas
1-0
Aduh aku malu, kalah rasanya saat itu
Hanya karena penasaran lantas kubuang rasa malu untuk memulai percakapan duluan
---

Akhirnya rasa penasaran itu berkembang
Awalnya enggan kuakui tapi sepertinya benar
Suka, iya suka dengan kehadiranmu setiap hari
Suka dengan segala pembicaraan ringan bersamamu
Suka melihatmu bahkan menyadari kau hadir hari itu
Ya barangkali kamu tak tahu, rasa itu sudah berubah lebih besar
Saat itu kamu orang paling baik yang pernah kutemui
Tawamu begitu renyah mengisi sela- sela hariku
Saat itu kamu definisi keindahan yang kukenal
Indah matamu dan tegasnya tulang pelipismu kerap terlintas tatkala mengingat pembicaraan kita sebelumnya
---

Barangkali kamu tidak tahu,
Pertemuan demi pertemuan kita yang akhirnya harus tersembunyi
Kala itu ujung ke ujung kota kenal kita, terlebih kamu
Tak nyaman rasanya
Kala itu aku pernah bilang untuk mengakhiri ini sedini mungkin
Ada rasa yang ganjil dan salah meski nyaman, kala itu
Kamu kala itu masih ragu harus melangkah maju atau mundur, denganku atau tidak
Hingga suatu ketika kubulatkan suaraku
"Ternyata tidak enak ya kalau bertepuk sebelah tangan"
Saat itu kamu menunduk sejenak dan terdiam
Tak lama kau jawab "Tidak bertepuk sebelah tangan kok, hanya keadaannya tidak bisa bersama saat ini"
Sebuah jawaban yang entah harus disikapi senang atau tidak tenang
Tapi aku sadar kamu jawab begitu karena memang tak hanya ada kamu dan aku
Tidak, bukan salahku memang
Ini murni ketidaktahuanku, kamu pun tak pernah berniat begitu jujur padaku
Akhirnya kandas, begitu saja lepas
Aku patah tak berbantah
Kau jatuh dan rebah
---

Saturday, July 21, 2018

FAILURE IS MY BESTFRIEND

0

Feat. Yusi Nurcahya Dewi

(Disclaimer: Ini murni pengalaman pribadi, dan ya cuma cerita aja sih)
Okay,
Sejak bersahabat, kami ini kalau awal tahun biasanya bikin to do list dan wish list. Jadi kegiatan apa saja yang harus dilakukan di tahun tersebut dan harapan apa yang akan ditaruh, kami catat dalam buku, ya buku ya catatan di komputer ding! Dalam satu tahun itu biasanya tidak banyak sih daftar yang dibuat. Nah, biasanya nih wish list dibuat yang reliable dan visibility mimpinya dapet ya. Jadi baiknya tulis daftar mimpi terbesarmu yang kamu yakin bisa jalani supaya ketika sorting list yah otomatis mengerucut jadi sedikit, inget mimpi boleh tapi realistis tetep.

Nah, kebetulan, tahun ini orientasi kami tu agak sama, yaitu kembali menaruh minat dalam bidang akademik, that is another way to say: pengen sekolah lagi. Tapi sayangnya, selain punya orientasi yang sama, kami juga mengalami satu hambatan yang sama pula. Ceritanya kami ini satu pengin studi ke Jerman, satunya lagi ke Inggris. Karena merasa keinginan ini sudah kami miliki sejak lama, besar harapan kami kalau cita-cita kami ini ya bisa lancar gitu jalannya, sebab kan ya kami merasa sudah banyak usahanya (wah, congkak sih ini). Jadi ya maunya wus...wus...gitu lho hasilnya. Tapi kok ternyata tidak. Pertengahan tahun ini kami dihantam berita tidak baik sih: universitas yang kami cita-citakan itu tidak ada di daftar universitas tujuan penyelenggara beasiswa terbesar di negara ini. OMG. Gimana kami mau sekolah dong?

Sebagai insan biasa yang sangat suka mengekspresikan perasaan, begitu mengetahui kabar tersebut, kami tidak bisa menahan diri. Sebentar, tentu tidak sesantai OMG itu aja reaksinya. Ya secara kami bingung juga bagian anak bangsa sebelah mana nih, maaf, yang bisa ditampung pemerintah untuk bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa? Apalagi dengan skema baru yang menurut kami sangat selektif (kalau ga mau dibilang eksklusif dan pemilih banget, segmented lah pokoknya). Sebab dulu aja kan ngga sesulit itu syarat dan pilihan universitasnya. Memang penyelenggara beasiswa itu banyak jumlahnya di dunia ini. Tapi, hey bukan itu. Masalahnya ada pada target kami yang terlanjur digantungkan pada beasiswa tersebut. Kalau mau maksain pindah uni, tapi kok susah sekali memulai dari awal. Wah, tuan puteri-cinderella-elzafrozen kurang struggle memang, hahaha.

Kalau mau menyalahkan keadaan, stemmanya juga terlalu jauh sis. Begini, beasiswanya itu kan milik pemerintah, kalau pemerintah sudah bikin kebijakan demikian, kan tidak bisa juga kita menjangkau secepat kilat untuk merubah sesuai keinginan kita. So, let’s make it simple ajalah, okay rencanamu gagal: yasudah, bukannya kemarin juga pernah begitu? Sering kali juga kan, bahkan rencana hidup yang lain yang lebih besar juga didera masalah serupa? Nyatanya masih cukup kwat untuk menghadapi hidup tuh. Masih hidup juga sampai sekarang, hehe. Ya, kali aja hidup memang lagi minta dinikmati dengan pekerjaan kami sementara ini. Kali aja strategi kami sebelumnya kurang jitu untuk mentargetkan sasaran. Tapi terkesan loser banget ngga sih ketika menyalahkan keadaan dan bisanya ngomel doang? Tapi tidak saudaraku pembaca yang budiman, kita kadang ngga pernah tahu sih ya ada aja rencana yang lebih besar mungkin daripada itu, atau ada strategi lain tapi memang bukan buat waktu ini aja. Yah belum mestakung (semesta mendukung) lah ibaratnya.

Kalau diingat-ingat kembali, failure is my bestfriend. haha sebuah motto yang destruktif memang. Tapi, mudah-mudahan kami selalu ingat kapan waktunya untuk kembali berjuang mengejar mimpi.

In conclude, sebagai makhluk yang juga hidup di dunia ini, janganlah sungkan melewati fase kehidupan yang memang tak terduga. Kadang kejutan-kejutan kecil dalam hidup itu manis sekaligus bijaksana (kalau tidak bisa dibilang pahit sih yaa). Kalau kebetulan hidupmu berjalan sesuai rencana, bersyukurlah. Nah, kalau hidupmu berjalan tidak sesuai rencana, YA TETAP BERSYUKUR, EMANGNYA SIAPA KAMU BERANINYA TIDAK BERSYUKUR?! 

Ps: tulisan yang sama juga sudah dimuat di blognya Yusii ya. 
Mohon doanya pembaca yang baik hatinya supaya dua anak ini bisa mengejar impiannya untuk kuliah di Jerman dan UK dengan beasiswa yang diimpikan dari beberapa tahun silam.


regards
HS feat Yusi


Sunday, June 3, 2018

3rd of June; It Always You

0

It's been 10 years.
And it always you.
The one that always come
In the dark of the night


It always you
That come across in my mind
Even when I go too far
Even my life was felt like impossible
Even at those old times,
hard to say I missed you


Nope,
I didnt miss the old you
I miss you, that's the only fact that I can admire
I just remembered how you smile
I just remembered the catfight between us
in
highschool


A hint, right?


Yes, it always you.
The one that make my counts for Christmas and Easter feel sooo long
Those 2 moments was the right time
To start texting you all over again.


And for these 10 years,
It always you
Could it be countless years ahead?




I hope so!
It always you


Thursday, April 19, 2018

Setahun di Natuna (part 1)

1

"Gimana rasanya setahun di Natuna?"
"Anak - anak di sana seperti apa sih?"
"Seperti apa tanggapan warga sana waktu pertama kamu datang?"
"Hal apa yang paling berkesan selama di Natuna?"

Yak dan masih banyak list pertanyaan lainnya yang sering ditanyakan semenjak pulang dan bertemu dengan keluarga maupun teman- teman. Jadi sejujurnya sampai hari ini saya belum buat postingan blog ataupun Instagram yang merangkum satu tahun perjalanan saya. Kalau video sudah pernah saya buat, tapi hanya untuk sekadar ditampilkan pada waktu hari perpisahan saya di desa Setumuk. Dan belum diupload di Youtube karena masih terlalu baper dan ngga pede aja sama kualitas videonya haha.

Well, kali ini mari izinkan saya bercerita sekelumit cerita tentang Natuna. Sekadar pengingat waktu buat saya sendiri bahwa sebagian jiwa saya masih tertinggal di sana dengan kenangan sangat baik, setahun paling berharga kalau katanya Indonesia Mengajar sih. Syukur- syukur bisa menjadi inspirasi buat temen- temen yang membacanya.

Foto teman- teman PM Natuna dengan mak angkat saya! Love!
Kali ini saya bakal cerita dengan point per point aja ya supaya ga missed dan saya bisa inget alurnya.

1. Natuna, sosial dan geografisnya
Secara singkat, profil Kabupaten Natuna, penempatan saya, pernah dijabarkan di web Indonesia Mengajar. Jadi pertama saya datang ke Natuna, bayangan saya itu adalah sebuah pulau kecil di  utara Indonesia. Coba cari peta Indonesia dan temukan Natuna, sulit. Sulitnya karena terkadang kecil banget di peta, ya memang tergantung skala ya, kadang kalo skalanya kecil ya suka ga masuk peta juga hehe. Jadi pertama kami tiba kami melakukan perjalanan udara dengan rute Jakarta- Batam- Natuna. Total perjalanan kurang lebih 7 jam, udah sama waktu transitnya -/+ 3 jam, berarti perjalanan 3 jam lebih. Btw, meski masih di wilayah Sumatera tapi tiket Natuna itu susah didapetinnya dan mahal harganya. Sekitar 2 sampai 3 jutaan bersihnya untuk bisa sampai di Ranai, ibukota kabupaten Natuna.
Selanjutnya saya masih perlu menempuh beberapa jam lagi perjalanan jalur darat dan laut untuk bisa tiba di desa saya bertugas, Setumuk. Saya pernah cerita perjalanannya di sini dan pernah buat video perjalanan seadanya juga. Disclaimer: mohon maap, video seadanya ga punya stabilizer jadi goyang- goyang shaking haha.

Natuna itu terdiri dari apa saja? Natuna bisa kamu lihat seperti peta di bawah ini. Terdiri dari satu pulau Bunguran; pulau yang besar itu dan 272 pulau kecil lainnya di sekelilingnya. Whoaa banyak yaa! Serius baru tau kalo Natuna ternyata punya pulau sampe sebanyak 200an lebih gitu.

Peta Natuna, credit from here

Lanjut ke kondisi sosialnya ya! Jadi kalau di Natuna mayoritas adalah Muslim Melayu. Bahasa yang dipakai sehari- hari adalah bahasa Melayu tapi khas Natuna. Beda dengan bahasa Melayu yang ada di Medan, atau Malaysia. Waktu pertama kali saya sampai di Natuna malah saya dengar logat mereka sangat terasa Thailand sekali, padahal menurut mereka logatnya lebih cenderung mirip bahasa Vietnam. Yah saya sih ga bisa bandingin dengan Vietnam karena belum pernah denger bahasa mereka. Tapi jangan salah, bahasa Natuna pun ga seragam semua, beda bahasa yang di Pulau Bunguran, Pulau Tiga, Pulau Midai, dan Pulau Serasan- Subi. Selain beda di logat misalnya di Bunguran banyak pakai huruf 'e' sementara di Pulau Tiga pakai akhiran 'o', ada beberapa bahasa yang beda antar satu pulau dan pulau lainnya di Natuna. Tapi selama ini sepertinya semua saling memahami sih kalau mereka bertemu satu sama lainnya.
Nah yuk mari highlight hal yang uniknya. Baju kurung adalah salah satu hal yang wajib digunakan tiap acara adat ataupun acara resmi di Natuna. Acara resmi itu misalnya acara adat, kondangan, pengajian, tahlilan atau saat kematian, acara menyambut kelahiran, atau acara dari dinas atau pemerintahan.

Ini adalah contoh baju kurung untuk pria.
Di foto ini adalah Yoga Febrianto, foto diambil saat Festival Anak Natuna 2017.
Kalau ini contoh foto baju kurung. Btw ini foto sama ibu- ibu desa Setumuk waktu Lebaran.
Nah masih soal kehidupan sosialnya, masyarakat Natuna itu terkenal ramah dan baik banget sama pendatang atau orang baru gitu. Jadi saking ramahnya ini, mereka juga mudah akrab dan bisa ngobrol panjang lebar dengan orang yang baru dikenal. Suka cerita gitu deh intinya, asal lawan bicaranya juga tektokannya asik sih ya. Kegiatan sehari- hari warga desa Setumuk biasanya ya berkebun dan mancing ikan, sejalan dengan pekerjaan mayoritas warganya yaitu jadi petani dan nelayan, selebihnya adalah ibu rumah tangga, atau pekerja sektor formal misalnya guru atau pegawai kantor desa/ kecamatan. Mayoritas memang yang bekerja adalah sang pria, sementar istrinya biasanya mengurus kebutuhan rumah tangga tapi kadang sambil ngurus kebun juga sih kalau memang punya kebun. Kebunnya isi apa aja? Ini yang paling heboh sih yang berkebun cengkeh, karena kalau lagi musim panen raya bisa dapet hasil sekitar Rp.100 juta per kepala keluarga. Asli deh! Selain cengkeh, ada durian juga (my love!), buah- buahan lainnya pun ada. Satu lagi, kalau jadi nelayan maka ikan yang paling sering mereka dapatkan adalah ikan tongkol, ikan yang paling banyak ada di Natuna; biasanya mereka menyebutnya ikan simbok.

Setahun di Natuna, udah nyobain banyak jenis- jenis ikan yang ada di sana. Seringnya sih makan ikan simbok, tapi favorit saya ikan manyuk! Duh ga paham jelasin ini ikan jenis apa karena saya ga paham bedanya cuma tau rasanya aja yang gurih dan cocok mau dipanggang ataupun digoreng. Sama ikan karang pun saya suka sebenernya, cuma kalau kata Dita, salah seorang temen PM Natuna, makan ikan karang itu juga ga bagus sering- sering karena ikan karang kan juga menjaga ekosistem karang yang ada.




Yak dua foto di atas adalah bukti bahwa menjadi dekil dan kumal karena gosong adalah nikmat apalagi kalo abis mancing di laut. Foto diambil Oktober 2017 di Serasan, Natuna.


Setiap hari udah pasti makan ikan atau cumi- cumi deh kalau lagi ngga ada ikan. Duh bahagia banget, sampe- sampe berat badan jadi naik 7 kiloan selama di Setumuk. Yang biasanya doyan banget makan cumi eh sekarang sampe bosen loh saking sepuasnya banget makan cumi di Natuna. Nanti akan saya buatkan tersendiri mungkin ya untuk post tentang makanan khas Natuna dan segala seafoodnya kalau memang dokumentasinya mencukupi.

Oke balik lagi ke kondisi sosialnya. Jadi karena orang Natuna itu sukanya kumpul- kumpul dan ngobrol, orang- orang di desa saya tiap sore pun suka tuh nongkrong di depan rumah atau di pusat keramaian (ala desa ya bukan kayak warung- warung kopi gitu bahkan, cuma yah tempat warga ngumpul aja di bawah pohon atau teras rumah siapa). Selain nongkrong, biasanya mereka suka berolahraga. Apa sih olahraga favoritnya? Ada sepak bola, biasanya yang main pemuda- pemuda gitu (aseek) atau bapak- bapak. Ada juga yang main voli (ini semua kalangan dan gender pasti main, voli itu populer se Natuna, bok!). Selain itu masih ada sepak takraw dan bulu tangkis yang jadi olahraga favorit musiman warga desa saya, tapi 2 ini biasanya yang mainin ya anak- anak sekolah SD- SMA gitu.


Selanjutnya, poin tentang sekolah, anak- anak, teman- teman PM Natuna, dan penggerak lokal akan saya tampilkan di post berbeda ya, supaya bacanya enak ga kepanjangan. Maklum namanya juga cerita setahun jadi pasti puanjaang. Bonus sebelum penutupnya saya akasih dua foto ini aja yaa:

Foto sama anak- anak murid di SDN 003 Setumuk 

Rapat Guru dengan orang tua siswa



See you!
HS

Tuesday, February 13, 2018

Menjalani Impian

0

"Han, lagi sibuk apa sih?"

Banyaaak sekali pertanyaan seperti ini, serupa dan sejenis, yang menghampiri saya belakangan ini. Pertanyaan yang memang nggak salah sih ditanyakan. Cuma emang agak sensitif ditanyain dulu waktu baru kelar tugas di daerah. Rasanya mau break dulu dari kerja, liburan dulu. Eh lha society udah repot aja nanyain. (((Society)))
Tapi tenang, untungnya, hidup saya masih lebih jumpalitan di 2015, masa tunggu sejak lulus kuliah ke dapet kerja agak lama, padahal mah waktu itu ada yang digarap juga, cuma ga semua orang tau aja.
Wajar- wajar aja sih sebenarnya pertanyaan begitu, meski saya sempet sensi ditanyain, karena memang setahun terakhir kemarin saya abis menarik diri dari peradaban, jadi guru SD di daerah 3T.

          

Jadi kalau saya jawab sih sekarang, jawabannya begini: "Lagi sibuk menjalani impian nih. Menjalani hidup sesuai yang aku impikan."


Sadisss banget yekan. Hahaha maap.
Tapi di luar itu, beneran deh sekarang saya lebih selektif semenjak pulang dari Natuna. Bongkar ulang, re-planning the future. Fokus ke target. Targetnya apa? Ada, banyak. Salah satu target terdekat adalah kuliah lagi, di Inggris. Target yang deket banget meski ngga mudah memang mewujudkannya. Target selanjutnya pun masih banyak: keliling Indonesia, punya lensa baru, nulis buku (semoga tahun ini launching), menang lomba nulis atau foto, hidup sehat mulai 2018, lebih hemat dan bijaksana saat mengeluarkan uang, bisa berbuat hal yang nyata juga untuk pendidikan daerah (panjang cerita dan memang panjang jalannya untuk ini).

Hal terdekat yang sudah terealisasi adalah dengan membuat dapur ngebul kembali. Asiikk :))
Jadi sesungguhnya, semenjak kerja di Blok M 2 tahun lalu, saya kok agak gimana gitu sama perjuangannya ke Blok M. Iya tau, Cempaka Putih- Blok M emang ga jauh- jauh banget. 19 km ajah emang, bisa naik Trans Jakarta, atau ojek online cuma 20 ribuan emang. Tapi untuk jam kerja yang fleksibel banget rasanya agak watir juga.
Makanya,


Well, I'll keep this story later. Akhirnya saya punya impian, untuk kerja di sekitaran Cempaka Putih aja ah. Lha tapi di Cempaka Putih ngga ada kantor yang cihuy! Akhirnya mulailah memperluas zona nyaman, eh nyaman juga nih sekiranya ngantor di Monas atau sekitaran jalan Medan Merdeka gitu. Ga cuma di situ aja, dulu waktu masih di private sector mikir kok kayaknya seru cobain tantangan kerja di government, bagian public policy kan yang pegang government dan memang ngaruhnya sih ke private sector yang waktu itu jadi ranah kerja saya. Tapi kemudian Tuhan berkata lain ya kan. Saya mencicipi kerja dulu di education sector tapi jalannya melalui sebuah NGO (non government organizations).

Sesudahnya barulah tunai tugas saya di daerah, saya off bekerja di Januari 2018. Eh Februari 2018, Puji Tuhan, rezeki dapur ngebul nyangkut! Hahaa. Kerja lah di government per Februari. Btw kerja ini pun saya yakini sepenuh hati bahwa ngga semua pekerjaan itu semata materi dan karir. Tapi satu hal: membuat pikiran tetap berpikir. Ini yang amat saya perlukan dari bekerja. Dan lagi yang saya syukuri, sejak 2015 berarti saya sudah berkarya di 3 sector: private, NGO, dan government. Well, not to mention that I'm good at this, but I'll try my best to keep up the good of life. Yak pokoknya begitulah, undescribable.

             

Saya nulis ini bukan untuk pamer, lha ngapain juga karena masih bukan siapa- siapa. Karena sejauh ini saya masih mencoba menjadi person yang peduli pada mimpinya sendiri. Saya dulu adalah orang yang suka meniadakan ego saya, suka lupa kalo diri sendiri pun perlu diperhatikan. Ya gitu deh.  Tapi thanks to Indonesia Mengajar, sejak setahun lalu saya belajar untuk lebih mengenal diri saya sendiri. Mengetahui apa yang kamu mau dan kamu senangi itu penting. Sejak saat itu saya tulis semua mimpi saya yang pernah tercetus dan belum terwujud. "Ya tulis aja dulu, kali aja semesta mendukung dan bisa mewujudkan banyak keinginan saya ini," gitu pikir saya waktu itu. Pun awal tahun 2018 ini saya nulis lagi resolusi baru dan yang lama yang belum terwujud.

Sekali lagi demi...ya kali aja Tuhan sedang bermurah hati mewujudkan keinginan hambaNya yang suka lupa diri ini. 2016- 2017 adalah salah satu masa dalam hidup yang rasanya saya nggak perlu minta apa- apa lagi sama Yang Kuasa. Semua wishlist utama saya hampir terpenuhi. Saya sampai sempat takut akan menghabiskan "jatah keberuntungan" saya di tahun itu.

Tapi semoga tahun 2018 ini lebih grande lagi kejutan- kejutan manisnya :)
Dan tahun 2018 ini saya masih berusaha untuk tetap di jalur hidup sebagai seorang Hanna yang sesungguhnya. I made my own rule in my life. Jadi sekarang, izinkan saya menjawab pertanyaan itu dengan yakin: "Saya sedang hidup dan menjalani mimpi- mimpi saya dari dulu."

So, follow your life path, make your own rules in your own life, not people's.

Regards,
HS.

*Btw meme buibuk yang kocak dan nyeni banget ini didapat dari akun FB Page terngehits: Qasidah Memes for all Occasions. Love banget deh! ❤❤❤

Friday, February 9, 2018

Program Mudik Gratis Kemenhub: Solusi Nyaman Pulang Kampung

0

Mudik adalah sebuah ritual unik yang terjadi di Indonesia, terlebih puluhan juta
masyarakat turut melakukan kegiatan ini. Dari data jumlah pemudik Lebaran 2017 yang dirilis
oleh Kemenhub, total 20 juta pemudik atau naik sekitar 2,5% dari tahun sebelumnya. Jawa
Tengah dan Jawa Timur adalah 2 contoh daerah tujuan yang sering dikunjungi pemudik.

Penuhnya jalanan antar provinsi yang seringkali berujung kemacetan panjang. Para
pemudik menggunakan beragam moda transportasi untuk dapat pulang ke kampung
halamannya. Mulai dari transportasi umum seperti kereta, pesawat, bis, hingga kendaraan
pribadi yang mereka kendarai hingga kampung halaman. Pada 2017, angka pemudik dengan
menggunakan kendaraan pribadi khususnya sepeda motor meningkat 18% atau sejumlah 6 juta
pemudik motor. Padahal penggunaan sepeda motor jarak jauh selain kurang nyaman pun
memiliki potensi kecelakaan lalu lintas yang cukup besar.

Ramainya pemudik tak hanya mengakibatkan macetnya jalanan, namun juga
meningkatkan resiko kecelakaan jalan raya saat. Banyaknya kendaraan pribadi yang sering
disalahgunakan seperti penggunaan sepeda motor untuk bepergian jarak jauh dengan bawaan
banyak serta mengangkut lebih dari 2 orang dapat mengancam keselamatan pengendara
lainnya. Merujuk data dari CNN Indonesia, pada mudik lebaran 2017 lalu ada kurang lebih 2.500
jumlah kecelakaan. Angka ini menurun 26 persen dibanding tahun 2016 akibat tindakan
preventif yang digencarkan oleh berbagai pihak.

Kemenhub misalnya, untuk mengantisipasi macet yang berkepanjangan serta rawannya
kecelakaan lalu lintas saat mudik, sejak lebih dari 5 tahun lalu mengadakan mudik gratis sebagai
salah satu solusi. Kemenhub bekerja sama dengan beberapa BUMN dan pihak swasta pada
Lebaran 2017 silam mengadakan Angkutan Sepeda Motor Gratis dan Mudik Gratis. Kemenhub
menyediakan angkutan sepeda motor menggunakan kereta api bagi warga yang ingin mudik
dan tetap membawa motornya ke kampung halaman. Selain itu, mudik gratis pun tetap
diadakan untuk tujuan beberapa kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Selain mendaftar langsung di Dishub wilayah Jabodetabek, Kemenhub pun
mempermudah calon pemudik untuk mendaftarkan dirinya dengan daftar online via situs
www.mudikgratis.dephub.go.id. Tak hanya via bis dan jalur darat, Kemenhub pun menyediakan
angkutan dengan kereta api, dan jalur laut dengan kapal penyeberangan. Tawaran mudik gratis
dari Kemenhub ini merupakan sebuah jalan keluar yang menarik. Pemudik ditawarkan pilihan
untuk lebih berhemat dengan program ini, motor pun tetap bisa dibawa pulang dan digunakan
saat di kampung halaman. Satu hal yang pasti, efisiensi waktu dan tenaga tentu lebih terasa
dengan ikut program mudik gratis ini. (Hanna Suryadika)

21 Januari 2018

Sumber:

Saturday, January 13, 2018

Tentang Hidup (Part 1): UJIAN KEHIDUPAN

0



Sesungguhnya hidup adalah perkara ujian.

Ujian kehidupan, ujian semester, ujian SIM, ujian nasional, ujian akhir, dan banyak lainnya. Kebetulam dalam seminggu terakhir ini saya baru saja melalui 2 ujian: ujian SIM dan ujian TPA. Yang pertama jelas untuk dapetin SIM. Sementara ujian TPA atau tes potensi akademik gunanya untuk persyaratan daftar beasiswa.

Ternyata bener lho untuk melalui sebuah ujian itu ternyata bukan proses yang cepat. Udahlah lama, melelahkan juga, menguras energi dan belom lagi emosi yang habis- habisan. Seperti ujian SIM saya beberapa minggu lalu. Harus ngumpulin syaratnya, ujian tulis tentang pengetahuan rambu dan jalanan. Itu pun belum tentu lulus, hasilnya pun memakan waktu berjam- jam untuk bisa jadi. Tapi begitu SIM nya jadi, seneng banget dong! Jadi bisa ke sana ke mari bawa kendaraan tanpa takut kena razia hehee. Atau singkatnya, kita usah tenang dan aman di jalanan, karena udah naik kelas untuk jadi pengguna jalan yang taat. Kalau sebelumnya sih pengguna jalan yang nggak taat, karena mondar mandir bawa kendaraan tapi kok SIM nya mati haha.

Belum lagi baru- baru ini harus ikut tes TPA di Bappenas. Iya saya ikut tes nya personal, swadana hehe. Hasilnya keluar 4 hari sesudah tes. Saya pakai hasil tesnya ceritanya untuk lanjut ikutan beasiswa S2. Eh lha kok nilainya kurang dikiitt haha. Memang belum nasib, mungkin harus coba lagi dan harus banget serius belajarnya nih.

Itu contoh tentang ujian yang simpelnya dalam kehidupan sehari- hari. Hal ujian ini juga yang paling sering jadi hal memorable buat saya mengingat proses setahun kemarin waktu jadi guru SD di Natuna. Bu Hanna nih doyan banget ngetes murid- muridnya. Ujian formal atau informal pokoknya kena uji aja deh tuh murid- murid saya. Tujuannya apa? Saya ingin memancing rasa penasaran mereka, supaya mereka tahu di mana kelemahannya. Mereka harus rajin belajar di bagian pelajaran yang mana. Supaya mereka juga kompetitif, siap bersaing dengan murid lainnya. Dan lagi, supaya mereka layak naik kelas dan jadi juara. Iya dong?

Setahun kemarin, saya banyak belajar. Dari mulai mencoba banyak hal baru sampai dihadapkan pada banyak ujian- ujian kehidupan yang remeh temeh sampe yang grande banget. Untung ujian yang grande ini ngga sampe bikin saya goyah atau galau berat. Rasanya 'cuma menguras energi habis- habisan aja'. Tapi abis itu dapetnya apa?

Ya Puji Tuhan, jadi lebih sabar menghadapi orang. Jadi tau bahwa sepayah- payahnya kita atau kadang saya suka minder banget orangnya, ternyata masih ada lho yang lebih susah dari kita atau maaf ya, kadang lebih payah dalam beberapa hal. Kisah seperti ini yang buat saya bersyukur dan harusnya makin giat lagi untuk berbagi dan peduli dengan yang di bawah kita. Sepayah- payahnya gue ternyata masih bisa lho ngasih manfaat buat orang banyak. Ternyata saya bisa melakukan banyak hal diluar dugaan saya sebelumnya. Nah pemikiran seperti inilah yang saya dapatkan dari hasil ujian kehidupan saya kemarin.

Jadi kalau ditanya: sudah siap untuk naik kelas?
Yes tentu! Saya siap untuk tantangan yang lebih besar. Siap untuk naik kelas!

Btw, ada yang punya cerita tentang ujian kehidupan yang lebih menarik? Sharing dong... :)

Rgds,
HS